Beribadah untuk Meraih Kebahagiaan

Keikhlasan-dalam-Beribadah

Keikhlasan-dalam-Beribadah

Dewasa ini mulai banyak umat manusia berlomba melakukan kebaikan, entah demi sebuah pengakuan atau memang kesadaran nurani akan tanggung jawab tersebut sebagai umat manusia. Keduanya memiliki makna yang berbeda jauh, jika untuk sebuah pengakuan sepertinya orang yang melakukan itu sangatlah picik dan dangkal pikirannya. Walaupun bukan hal yang mustahil peristiwa itu banyak terjadi di sekitar kita, bahkan mendominasi kehidupan di dunia ini. Sebenarnya kedua hal tersebut sama – sama ingin memperoleh kebahagiaan di akhir kata, tapi karena pemahaman salah jadi seperti itu. Sungguh sangat disayangkan, jika egoisme memiliki “kekuasaan” lebih pada lahir dan bathin kita.

Bagi kita umat muslim kebaikan itu adalah ibadah. Beribadah bukan sebatas memenuhi kewajiban rukun iman dan rukun islam, tapi lebih dari itu ada sebuah nilai terpendam dari sebuah kata “IBADAH”. Jikalau sekedar rukun iman dan rukun islam, pastilah semua umat muslim di Indonesia bahkan dunia sudah mampu untuk memahami secara lahir, entah pemahaman secara bathin apa mereka semua paham? Sebab itu adalah ikatan langsung antara pribadi bathiniah manusia dengan Allah SWT. Tak perlu berprasangka sepertinya.

Kembali pada kata “IBADAH”. Ini bukan sekedar sebuah kata, setiap manusia khususnya umat muslim pasti memahami itu. Tak ada larangan kita beribadah atau melakukan kebaikan sebanyak mungkin, akan diklaim sebagai pelanggaran HAM jika ada yang melarang. Tapi pokok permasalahannya, apa benar itu sebuah kesadaran nurani atau seperti yang sudah dibicarakan di awal, itu hanya semata untuk pengakuan diri di mata manusia lainnya. Konteksnya mungkin terlalu berat, tapi tidak seberat yang Anda bayangkan. Kuncinya adalah jangan pernah jadikan EGOISME (Hasrat Diri) sebagai “KING” atau pemegang kekuasaan dalam lahir dan bathin Anda. Serta mutlakkan lahir terutama bathiniah Anda pada ikatan rantai kesadaran murni akan Sang Maha Pemurni, Allah SWT. Ikat kuat dengan rantai Kesadaran pada Allah dan ke-Fokusan hanya pada Allah pula. Hal tersebutlah yang kami yakini sebagai “senjata kuat” untuk mampu menjadikan kata “IBADAH” sebagai sebuah manfaat yang seharusnya, bukan sebuah mudharat yang berselimut.

Bolehlah kita ini berbondong – bondong melakukan kebaikan untuk ibadah kita serta sebagai bekal kehidupan di Akherat kelak. Namun sangat tidak pantas sekali, jika ibadah itu diselimuti dengan kebohongan yang mungkin tidak pernah kita sadari. Mengapa demikian? Sadar ataupun tidak, pasti sebelum kita melakukan sebuah kebaikan sebagai nilai ibadah kita ada sebuah niat yang muncul. Nah, disitulah letak awal dari kebohongan itu jika kita tidak benar – benar memahami diri kita. Bohong, jika bathin kita ingin ibadah untuk diakui manusia lain tapi kita berkata Ikhlas melakukannya. Tidak bohong, jika kita ingin beribadah hanya untuk Allah, pada Allah dan kembali ke Allah, serta itu tak pernah kita ungkapkan pada siapapun kecuali hanya kepada Allah SWT. Itulah sebuah Kebahagiaan mutlak dan membanggakan bagi siapapun yang dapat meraihnya.