Ilmu Pengetahuan dalam Dimensi Pengenalan akan Allah

Ilmu-Pengetahuan-dalam-Islam

Ilmu-Pengetahuan-dalam-IslamBentangan ilmu pengetahuan yang ada di bumi saat ini menjadikan peradaban manusia semakin berkembang dari waktu ke waktu. Manusia adalah makhluk yang teranugerahkan akal pikiran serta bentuk tubuh yang sempurna dibandingkan makhluk lainnya. Segala bentuk dimensi pengetahuan di alam semesta ini, merupakan bagian dari gerak cahaya Allah nan tak terhinggakan dengan atas kehendakNya.

Dimensi pengetahuan Allah yang tak terhinggakan tercerminkan dalam Q.S. ‘Ali Imran ayat 7, yang artinya:

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mu-tasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

Pada ayat diatas, tercerminkan dimensi pengetahuan Allah yang berpendar di semestaNya dengan atas kehendak Allah. Dimensi pengetahuan yang tak terhinggakan tersebut, tersiratkan dan terangkumkan dalam Al Qur’an dengan atas kehendak Allah. Allah telah menegaskan pada ayat tersebut bahwasanya dalam Al Qur’an terangkumkan dimensi pengatahuan Allah yang tersurat (muhkamat) dan tersirat (mutasyabihaat). Kedua dimensi pengetahuan Allah tersebut teralurkan dengan harmonis, selaras dan seimbang dengan atas kehendak Allah. Sebagaimana teralurkannya siang dan malam, matahari dan bulan, lahir dan bathin serta berbagai bentang kehidupan dan penghidupan di semestaNya baik yang nyata maupun tersembunyi dengan atas kehendak Allah.

Sesungguhnay, tiadalah mampu manusia memahami dimensi ayat-ayat Allah yang tersurat maupun yang tersirat kecuali dengan atas kehendakNya. Tiada pemahaman yang sebenar-benarnya sebuah pemahaman kecuali pemahaman yang teralurkan dalam dimensi sadar akan Allah dan fokus kepada Allah. Dialah Allah yang memahamkan segenap pengetahuan tentang semestaNya kepada siapapun yang dikehendakiNya. Orang-orang yang hanya mengambil sebagian dari ayat-ayat Allah yang mereka anggap menguntungkan bagi diri mereka, dan meninggalkan sebagian yang mereka anggap merugikan, adalah orang – orang yang berada dalam kesesatan dan kehinaan yang nyata. Mereka itulah yang dinyatakan dalam ayat tersebut sebagai “orang – orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan”. Mereka menta’wilkan ayat – ayat tersiratNya demi kepuasan ego serta hasrat diri mereka.

Hanya orang – orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran dari setiap dimensi ayat – ayat Allah yang tersurat dan tersirat. Dan sesungguhnya, akal manusia pun adalah bagian dari dimensi cahaya Allah yang tersistematisasikan sedemikian rupa, sehingga mampu menerima setiap curahan pengetahuanNya yang murni termurnikan dan suci tersucikan dengan atas kehendak Allah.