Kesetiaan yang Membanggakan

Kesetiaan-yang-Membanggakan

Setia, sebuah kata mutlak yang dimiliki setiap manusia. Menurut penelitian, kesetiaan itu memang dimiliki oleh setiap pribadi manusia, yang membedakan adalah tingkatnya. Sebagaimana rasa cinta, setia juga datang dan menghilang. Menghilang bukan berarti tidak ada lagi, hanya seperti tenggelam ke dasar diri yang lemah.

Kesetiaan-yang-MembanggakanNilai sebuah kesetiaan, mengandung unsur yang mendasari kekuatan jiwa manusia untuk sepenuhnya mengabdi pada Allah SWT. Itulah hal yang menjadi latar belakang kekuatan bathin manusia. Nilai kesetiaan bukan hanya sekedar untuk mempertahankan yang namanya cinta pada sesama manusia. Jika memang itu ada bersamaan dengan kata cinta ke lawan jenis kita, sebenarnya itu adalah sebuah manfaat yang diperoleh saat kita mencapai kekuatan pengabdian penuh pada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Namun, jangan terkecoh, bukan berarti orang yang nampak khusyuk ibadah adalah orang yang memiliki kesetiaan tinggi karena dianggap sebagai manusia yang mengabdikan diri pada Tuhannya. Ini yang perlu dibahas lebih dalam.

Manusia yang secara penuh memiliki pengabdian hanya teruntuk Allah SWT, adalah seorang yang kian selalu sadar akan Allah dan hanya mem-fokuskan diri pada Allah. Sadar bukan berarti sekedar ingat, tapi sadar adalah nilai (cahaya) ruh paling dasar yang mengawalkan segala pergerakan dari manusia itu sendiri, baik Lahir wal Bathin. Nilai sadar itu lebih tinggi dari ingat, karena didalamnya sudah mncakup ingat itu sendiri. Jika Anda bingung, saya gambarkan demikian. Si Fulan ingat, jika telepon genggamnya ada diatas meja belajar di kamarnya, itu INGAT. Sedangkan SADAR, maka si Fulan pun tak hanya ingat jika telepon genggamnya diatas meja  belajar tapi dia jika sadar telepon genggamnya ada diatas 3 tumpukan buku pelajaran yang di samping kanannya terdapat lampu belajar serta di samping kirinya terdapat tempat alat tulisnya. Demikian itu sedikit gambaran dari perbedaan INGAT dan SADAR. Oleh karena itu saya mengatakan, jikalau sadar itu lebih tinggi nilainya dari ingat.

Kembali pada kata setia, sesungguhnya seorang manusia dapat dikatakan memiliki kesetiaan tinggi bukan saat dimana dia selalu konsisten dan bertanggung jawab pada satu pasangan hidup. Namun, di saat dia telah mampu menjaga pengabdian murninya itu hanya kepada Allah (Tuhannya) dengan tetap sadar bahwa kesemua itu adalah dari Allah, untuk Allah dan hanya kembali kepada Allah. Maka pantaslah orang tersebut dikatakan memiliki kesetiaan tinggi. Manfaat yang akan didapatkan jika kita hanya menumpahkan pengabdian pada Allah, adalah diri akan selalu berani dan terjaga pada situasi yang manfaat bukan mudharat. Pastinya, berkait dengan kesetiaan kita akan kian selalu menjaga diri untuk setia pada jodoh kita tanpa kita takut pada apapun yang pasti suatu saat dapat memisahkan kita dengan pasangan kita tersebut, terutama kematiaan.

Demikian hal yang mencakup nilai murni nur ( cahaya ) yang mendasari nilai tinggi sebuah kesetiaan yang memang layak untuk dibanggakan.