Konsep Sosiologi dalam Dimensi Kema’rifatan

Konsep Sosiologi dalam Dimensi Kema’rifatan 1

Konsep Sosiologi dalam Dimensi Kema’rifatan 3Berdasarkan pemahaman manusia saat ini, sosiologi merupakan bagian dari dimensi ilmu pengetahuan yang mengupas dan mempelajari tentang kondisi sosial secara umum, yakni interaksi antar individu dalam suatu komunitas tertentu, baik ruang lingkup yang sempit maupun luas serta dalam kurun waktu yang telah lalu, yang kini maupun yang akan dating. Pengertian tersebut hanya sebuah definisi secara umum karena dari sekian banyak definisi tentang sosiologi, belum ada sebuah makna pasti yang mempresentasikan antara dimensi teoritis dari sosiologi dengan fakta maupun gejala sosial yang ada.

Kondisi faktual saat ini, merupakan bagian dari dimensi alamiah yang berlangsung terus menerus dalam pola kehidupan dan penghidupan manusia. Kadar keterikatan fisikal dan emosional yang ada dalam diri tiap manusia terhadap lingkungan sekitarnya, secara ilmiah, alamiah dan Ilahiyah terpengaruhi oleh berbagai faktor yang memiliki variabel turunan yang kompleks, dimana kesemuanya teratur tetapkan dan terperjalankan dengan atas kehendak Allah. Berbagai faktor yang mempengaruhi pun telah tertetapkan dengan atas kehendak Nya pula.

Pemahaman mengenai sosiologi secara umum di atas, tidak dapat menjadi patokan atau harga mati untuk semua kalangan yang akan memahami. Karena itulah Allah menciptakan akal pikiran, hati dan tubuh yang sempurna bagi manusia. Oleh sebab itu tidak menutup kemungkinan – bahkan sangat mungkin – terungkapkan metode – metode baru dalam mempelajari, mengkaji dan mengatasi permasalahan social yang ada di bumi Allah, dengan atas kehendak Allah pula. Sesungguhnya segala hal tersebut pun teratur dan terperjalankan dengan atas kehendak Allah.

Kema’rifatan

Kema’rifatan merupakan segala sesuatu yang mengalir dalam koridor ma’rifat, yakni dimensi pengenalan akan Allah, Rabb Yang Maha Menciptakan alam semesta dengan atas kehendak Nya. Sendi – sendi kema’rifatan yang terlingkupkan dalam pola ilmiah, alamiah dan Ilahiyah, memiliki bentangan yang luas sampai tak terhinggakan, dimana kesemuanya tidak keluar dari jalur syariat Islam, dengan atas kehendak Allah. Dimensi ma’rifat yang terpahami oleh generasi terdahulu, masih tersekat oleh pola pemahaman yang terbatas pada satu ruang lingkup tertentu, meski keterbatasan pemahaman itu pun dengan atas kehendak Allah.

Berma’rifat itu tak harus menempuh jalan layaknya seorang sufi, karena pintu ma’rifat Allah itu pastilah terbuka bagi siapa pun hamba Nya yang tangguh dalam menempuh jalan ma’rifat yang diyakininya, dengan atas kehendak Allah pula.

Sesungguhnya kema’rifatan itu adalah hal yang ilmiah dan alamiah, dimana memiliki nilai Ilahiyah yang nyata. Seseorang yang ingin menempuh jalan ma’rifat, maka sudah seharusnya berma’rifat pada setiap gerak penghidupan dan kehidupannya tanpa terpengaruh oleh gerak diluar diri pribadinya, dengan atas kehendak Allah. Seringkali manusia kesulitan menyelami nilai ma’rifat dari suatu peristiwa yang seolah nampak tak sepadan dengan dimensi Ilahiyah kema’rifatan itu sendiri, maka perlu ditempuh sebuah metode baru yang lebih menyeluruh dan bersifat harmonis pada setiap nilai ilmiah dan alamiah sebuah kehidupan, dimana tidak lepas dari nilai Ilahiyahnya serta tidak keluar dari jalur syariat Islam, dengan atas kehendak Allah.

Metode yang dimaksudkan memiliki istilah sebagai sebuah Sosiologi Kema’rifatan, dimana telah terkaji untuk berbagai factor teoritis maupun factor realitis dari sosiologi kehidupan dan penghidupan manusia, yang terperjalankan dengan atas kehendak Allah.