Learning from Mosquitoes: What’s Inside?

Perumpamaan-seekor-Nyamuk

Perumpamaan-seekor-Nyamuk

“Dan tiadalah Allah ciptakan sesuatu ini dengan sia-sia”.

Kutipan ayat Al Qur’an diatas mengindikasikan dengan jelas bahwa sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menciptakan segala sesuatu di bumi dan langit Nya dengan sebuah kesia-siaan. Segala sesuatu di alam semesta, baik yang nyata maupun yang ghaib (tersembunyi) sesungguhnya adalah bagian dari dimensi penciptaan Allah yang di dalamnya ternaungkan unsur kemadharatan maupun kemanfaatan dalam kadar yang berbeda.

Sebagai contoh, ketika kita menganggap bahwa nyamuk adalah binatang yang sangat merugikan dan tidak mendatangkan kemanfaatan samasekali, terutama bagi manusia, maka sesungguhnya anggapan kita ini adalah anggapan yang sangat sempit dan picik sekali. Jika kita teliti lebih jauh, sesungguhnya di balik kerugian yang ditimbulkan oleh si nyamuk tersebut, tersiratkan ruas kemanfaatan yang sangat besar dengan atas kehendak Allah. Melalui nyamuk itulah, Allah curahkan ide dan pemikiran pada beberapa gelintir manusia untuk membuat obat pembasmi/penangkal nyamuk. Hingga pada akhirnya, ide tersebut berkembang menjadi suatu industri manufaktur yang cukup besar dan memberikan jalan penghidupan pada beribu-ribu bahkan berjuta-juta manusia di bumi Allah dengan atas kehendakNya.

Pembelajaran yang dapat kita ambil dari sekelumit kisah diatas adalah jangan sekali-kali kita menganggap suatu hal atau peristiwa hanya dari satu sisi saja. Namun, lihatlah hal tersebut dalam  sudut pandang yang universal, dengna menggunakan akal pikiran yang jernih dan hati yang bening dengan atas kehendak Allah. Kejernihan pikir dan kebeningan hati hanya dapat terbentukkan pada jiwa atau pribadi yang hanya senantiasa sadar akan Allah dan fokus kepada Allah (SAFA). Sadar bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang teralurkan di semestaNya baik yang nyata maupun tersembunyi adalah bagian dari kehendak Allah nan suci tersucikan. Semua yang Allah alurkan dalam diri, maupun diluar diri sesungguhnya hanya akan berpulang kembali kepadaNya dengan sebenar-benar pengembalianNya. Oleh sebab itu, sudah selayaknyalah diri ini hanya senantiasa fokus kepada Allah dalam setiap gerak aktivitas hati, pikir maupun tubuh.