Makna Kebaikan dan Keburukan dalam Dimensi Ma’rifat

Kebajikan-dan-Kemudharatan-dalam-Islam

Kebajikan-dan-Kemudharatan-dalam-Islam

 

Allah berfirman dalam Q.S. Al An’am 17 yang artinya:

“Jika Allah menyentuhkan kemadharatan kepada engkau, maka tiadalah yang akan menghilangkannya melainkan Dia sendiri dan jika menyentuhkan kebajikan kepada engkau, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu.”

Sesungguhnya segala sesuatu di alam semesta ini berada dalam genggaman Allah ‘Azza wa Jalla, baik yang nyata maupun tersembunyi. Tiada satu makhluk pun di dunia maupun akhirat yang terlepas dari sorot kepengaturan Allah dengan atas kehendakNya. Dialah Rabb Yang Maha Mencurahkan Kemanfaatan dan Dia pulalah Rabb Yang Maha Berbahaya. Curahan dimensi kebaikanNya dan gerak cahaya ke-berbahayaan-Nya tak terjangkaukan dan tak terukurkan oleh apapun dengan atas kehendakNya. Hal ini pulalah yang tersuratkan dengan jelas pada ayat tersebut. Bahwa sesungguhnya setiap makhluk di semesta Allah – khususnya manusia – tiada memiliki kemampuan untuk melaksanakan kebajikan maupun menghindari kemudharatan kecuali dengan atas kehendakNya.

Dialah Allah ‘Azza wa Jalla yang menyentuhkan cahaya suciNya kepada hati dan pikir manusia untuk melaksanakan kebajikan. Cahaya suci tersebut teralurproseskan sedemikian rupa dalam hati, pikir dan gerak manusia sehingga ia mampu untuk melaksanakan suatu kebajikan yang dianjurkan Allah dan RasulNya dengan atas kehendakNya. Demikian halnya ketika ia menjauhi suatu kemudharatan. Dalam segenap aktifitas lahir maupun bathin manusia, teralurproseskan dimensi cahaya tak terhinggakan Allah yang senantiasa menaungi segenap dinamika kehidupan dan penghidupan manusia. Segala bentuk mekanisme tubuh dari yang terkecil sampai yang terbesar, semua beralur dengan atas kehendakNya melalui sorot cahaya diatas cahayaNya yang tak terhinggakan dengan atas kehendakNya. Dialah Rabb Semesta Alam Yang Maha Tak Terhinggakan.

Dimensi keragaman gerak cahaya Allah yang mengalir di dalam diri manusia maupun di luar diri manusia tersusunkan secara harmonis, selaras dan seimbang dengan atas kehendakNya. Sebagaimana keseimbangan siang dan malam yang mencerminkan ke-Mahaagung-an dan ke-Mahasuci-an Allah ‘Azza wa Jalla. Pertanyaan yang mungkin tersirat di benak kita “Lalu apakah kita tak bisa melakukan ikhtiar/usaha secara nyata untuk melaksanakan kebajikan atau menghindari kemudharatan?”

Sesungguhnya jika kita telisik secara mendalam dengan hati yang bening dan akal pikiran yang jernih, maka jawabannya telah tersuratkan secara nyata dalam ayat tersebut diatas. Bukankah ikhtiar kita untuk melaksanakan kebajikan adalah bagian dari alur gerak cahaya Allah yang teraplikasikan di bumiNya? Bukankan alur gerak hati, pikir dan tubuh kita dalam menjauhi kemudharatan juga bagian dari sentuhan cahayaNya? Sungguh teramat bodohlah manusia yang merasa dirinya mampu berbuat sesuatu dengan diri pribadinya tanpa kesadaran akan Allah dan kefokusan kepada Allah. Itulah yang dinamakan ego dan hasrat diri, yakni segala sesuatu baik lahir maupun bathin yang terlaksanakan tidak dengan SAFA (Sadar Allah Fokus Allah).