Makna Takwa dengan sebenar-benar Takwa kepada Allah

Firman Allah dalam Al Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran 102)

Ayat diatas merupakan ayat yang seringkali kita dengar tatkala khotib jum’at memulai khotbahnya. Ayat tersebut juga mengandung perintah yang sangat tegas dari Allah kepada segenap umat manusia pada umumnya dan kaum muslim pada khususnya untuk bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya. Lalu, apa sesungguhnya makna takwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya itu?

Sesungguhnya, dimensi takwa kepada Allah meliputi segenap alur kehidupan dan penghidupan lahir maupun bathin kita sebagai makhluk ciptaan Allah yang termuliakan dengan atas kehendak-Nya. Tak ada sedikitpun dimensi kehidupan dan penghidupan di semesta Allah ini yang lepas dari alur kehendak-Nya, meski itu hanya sebesar biji zarrah. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Q.S Al An’am 59).

Telah jelas ternyatakan dalam ayat diatas bahwa sesungguhnya tiada satu dimensi kehidupan dan penghidupan-pun di bumi maupun di langit yang terlepas dari alur kehendak Allah karena semua telah tertulis di kitab yang nyata (Lauh Mahfudh). Lalu apa keterkaitan ayat tersebut dengan ayat sebelumnya yakni Q.S Ali Imraan 102?

Sesungguhnya makna tersirat yang terungkapkan pada Q.S Ali Imraan 102 tersebut yakni bahwasanya manusia adalah makhluk yang lemah dan tak berdaya. Tak ada satu alur gerak penghidupan dalam diri kita yang terlepas dari sorot cahaya Allah, baik itu dimensi gerak lahir maupun bathin. Segala sesuatu berjalan dengan atas kehendak dan pertolongan-Nya. Bahkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah-pun sesungguhnya hanya dapat terhunjamkan hanya dengan atas kehendak dan pertolongan Allah. Inilah makna sebenarnya dari ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa-Nya. Tiada mampu sesungguhnya diri ini beriman dan bertakwa kepada Allah kecuali dengan atas pertolongan dan kehendak-Nya. Dialah Allah yang mencurahkan cahaya hidayah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Dia pulalah yang berhak mencabut cahaya hidayah itu dari siapapun yang dikehendaki-Nya karena hanya Dialah Allah ‘Azza wa Jalla Yang Maha Berkehendak dan Berkuasa atas segala sesuatunya.

Sesungguhnya takwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa hanya dapat terhunjamkokohkan dalam jiwa kita ketika kita benar-benar sadar bahwa diri ini tak berdaya dan tak memiliki suatu apapun meski hanya sebesar biji dzarrah. Rasa kepemilikan (ego) dan keinginan (hasrat) yang berada dalam diri hanya dapat terkikis dengan kesadaran akan Allah, bahwa sesungguhnya segala sesuatu bermula dari Allah, oleh Allah dan kembali kepada Allah dengan atas kehendak-Nya. Takwa dengan sebenar-benar takwa hanya teraihkan jika diri kita benar-benar memiliki kesadaran penuh akan Allah. Bahwa sesungguhnya ketakwaan kepada Allah yang mengalir dalam jiwa dan ruh kita sesungguhnya adalah curahan cahaya Allah dengan atas kehendak-Nya. Tiadalah diri ini mampu bertakwa kepada Allah kecuali dengan atas kehendak dan pertolongan-Nya. Tiada mampu pula diri ini meningkatkan ketakwaan kepada Allah kecuali dengan atas kehendak dan pertolongan-Nya.

Rasa memiliki terhadap apapun yang ada dalam diri maupun di luar diri, baik yang nyata (lahir) maupun yang tersembunyi (bathin) sesungguhnya akan menjadi hijab (penutup) jiwa kita dengan Tuhannya. Sebagaimana ternyatakan pula dalam Q.S Ali Imran 102 diatas bahwasanya Allah memberikan garis yang cukup keras bagi setiap muslim untuk jangan sekali-kali mati kecuali dalam keadaan Islam. Islam dalam hal ini bermakna penyerahan diri secara total kepada Allah dengan atas kehendak-Nya.

Berdasarkan penjelasan diatas dan berdasarkan firman Allah dalam Q.S Al An’am 59, sesungguhnya dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya dimensi takwa yang sebenar-benar takwa kepada Allah dan dimensi penyerahan total kepada Allah merupakan bagian dari alur gerak cahaya Allah yang telah tertuliskan dalam kitab Lauh Mahfudz-Nya sejak azali dengan atas kehendak Allah. Telah digariskan segala sesuatu di semesta ini dalam kitab agung-Nya dan tiada satupun gerak kehidupan maupun penghidupan yang terlepas dari alur kuasa dan kehendak Allah karena hanya Dialah Allah Yang Maha Menguasai Alam Semesta.