Makna Ujian dan Cobaan dalam Dimensi Ma’rifat

Manusia-dalam-Kebimbangan

Makna-ujian-dan-cobaan-dari-AllahFirman Allah dalam Q.S. Al Mulk ayat 1-2 yang artinya:

Maha Suci Allah, yang di tangan Nya lah segala kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang Menjadikan mati dan hidup supaya Dia manguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Sebagaimana terungkap dengan jelas pada ayat tersebut bahwa sesungguhnya Dialah Allah, Rabb Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, baik yang nyata maupun yang ghaib (tersembunyi). Segala pujian hanya teruntuk Allah, Rabb semesta alam. Segala sesuatu yang teralurkan di dalam diri maupun di luar diri kita adalah bagian dari tanda kekuasaan Allah yang tak terhinggakan dengan atas kehendakNya.

Dialah Allah yang mencurahkan kehidupan dan kematian kepada apapun yang di kehendakiNya. Kehidupan dan kematian dalam ayat tersebut memiliki makna yang luas dan bukan semata-mata kehidupan ataupun kematian yang terpahami oleh sebagian besar umat manusia saat ini. Kehidupan dan kematian dalam ayat tersebut meliputi segala bentuk dimensi kehendak Allah yang mengalir di dalam diri dan di luar diri, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Termasuk di antaranya gerak peristiwa dalam hati, pikir maupun tubuh manusia baik yang nyata maupun yang tersembunyi dengan atas kehendakNya.

Dialah Allah yang mencurahkan gerak kehidupan dan penghidupan dalam tubuh kita melalui segenap perangkat biologis sebagaimana yang kita ketahui saat ini. Dan Dia pulalah yang mematikan segenap gerak penghidupan dalam diri ketika ruh atau nyawa kita dipanggil kembali kepada Allah dengan atas kehendakNya. Ruh tersebut merupakan bagian dari dimensi cahaya Allah yang tercurahkan kepada diri tiap manusia sebagai bukti nyata atas ke-MahaBercahaya-an Allah yang tak terhinggakan.

Allah pulalah yang mencurahkan ego serta hasrat diri pada tiap manusia sebagai suatu bentuk ujian yang Dia terapkan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Ego dan hasrat diri merupakan cerminan cahaya gelap yang senantiasa menjerumuskan manusia pada jurang kenistaan dan kehinaan dunia maupun akhirat. Meski demikian, sesungguhnya ego dan hasrat diri sengaja Allah ciptakan sebagai suatu bentuk ujian bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini dengan atas kehendakNya. Ruh sebagai cerminan cahaya suci Allah dan ego hasrat diri sebagai cerminan cahaya gelap Allah merupakan dua dimensi kehendak Allah yang sengaja Dia tetapkan bagi segenap manusia di bumiNya.

Tertundukkannya ego dan hasrat diri kepada cahaya suci Allah itulah yang sesungguhnya akan membuat jiwa kita senantiasa hidup dalam kebahagiaan sejati, baik ketika di dunia bahkan kelak di akhirat dengan atas kehendak Allah. Jiwa yang terbelenggu oleh ego dan hasrat diri (dalam arti yang seluas-luasnya) adalah jiwa yang tercerabut dari akar kehidupan azali yang termurnikan. Jiwa itulah yang pasti akan mendapat kesengsaraan dunia maupun akhirat dengan atas kehendakNya.

Dialah Allah yang menjadikan segala sesuatu di bumi maupun di langit sebagai tanda-tanda kebesaranNya yang tak terhinggakan, karena hanya Dialah Rabb Yang Maha Bercahaya lagi Maha Tak Terhinggakan.