Manusia sebagai Makhluk Sosial dalam Sudut Pandang Kema’rifatan

Manusia sebagai Makhluk Sosial dalam Sudut Pandang Kema'rifatan 1

Al-Hujuraat-13Allah ciptakan manusia dalam latar belakang sosial yang berbeda – beda, agar satu sama lain dapat saling berinteraksi guna membentuk sistem kehidupan dan penghidupan yang harmonis, selaras dan seimbang, dengan atas kehendak Allah. Sebagaimana yang terkandung dalam Q.S. Al Hujuraat 13, yang artinya:

” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki – laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku- suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Allah telah mengisyaratkan dalam Qur’an Nya bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk yang tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan makhluk Allah lainnya, dengan atas kehendak Allah. Itulah dimensi sosial yang secara ilmiah, alamiah dan Ilahiyah telah Allah tetapkan bagi tiap manusia dengan atas kehendak Nya. Telah jelas diungkapkan pula dalam ayat di atas bahwa sesungguhnya Allah menciptakan manusia dalam berbagai sudut perbedaan agar tiap – tiap individu maupun komunitas dapat saling mengenal dan berinteraksi. Namun, pada ayat selanjutnya tertuliskan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. Kalimat tersebut mengisyaratkan makna kema’rifatan yang luhur, yakni bahwa sesungguhnya kita sebagai umat manusia dapat saling mengenal dan berinteraksi hanya dengan atas kehendak Allah, Robb yang Maha Mengenal. Itulah korelasi yang ilmiah, alamiah dan Ilahiyah antara dimensi kema’rifatan nan luas dengan aktivitas sosial manusia yang terharmoniskan melalui pancaran cahaya Allah, dengan atas kehendak Nya.

Lalu, akan timbul pertanyaan, Bagaimana memposisikan diri kita dalam dua dimensi tersebut, yakni aktivitas kema’rifatan sekaligus aktivitas sosial dalam lingkup kemasyarakatan? Hanya ada satu jawaban yang dapat menbantu Anda, yakni dengan metode Sadar akan Allah dan Fokus kepada Allah, dengan atas kehendak Nya. Meski banyak perbedaan yang Allah munculkan diantara manusia, tapi dengan selalu Sadar akan Allah dan Fokus kepada Allah akan terbangun sebuah keharmonisan pola aktivitas sosial yang berdampingan dengan aplikasi nilai kema’rifatan, dengan atas kehendak Allah.

Mungkin diantara pembaca sekalian masih bingung memaknai metode tersebut. Sesungguhnya itu semua kembali pada sudut keagungan Allah atas pancaran dimensi asma’, sifat dan af’al Allah (Asma’ul Husna) yang tak terhinggakan dengan atas kehendak Nya. Sehingga segala bentuk kehidupan dan penghidupan yang Allah perjalankan untuk manusia haruslah tersadarkan oleh manusia itu sendiri bahwa tak ada daya dan upaya, kecuali daya dan upaya dari Allah, dengan atas kehendak Nya. Saat Allah memperjalankan manusia dalam aktivitas sosial kehidupannya, maka saat itulah manusia harus selalu Sadar akan Allah dan Fokus kepada Allah guna mencapai kesinambungan murni antara kehakikian manusia sebagai makhluk sosial tanpa meninggalkan sedikit pun aplikasi nilai kema’rifatan didalamnya, dengan hanya atas kehendak Allah pula.

Dialah Allah, Robb Al Khabiir yang memerintahkan kita untuk saling mengenal dan mengadakan interaksi sosial yang berbasiskan nilai – nilai pengenalan akan Allah, dengan sebenar – benar pengenalan Nya dengan atas kehendak Allah. Itulah isyarat dari Allah terhadap dimensi penciptaan dan pengaturan manusia sebagai makhluk sosial menurut kajian kema’rifatan yang agung teragungkan dengan atas kehendak Allah. Pemahaman parsial antara dimensi sosial manusia dengan aspek kema’rifatan nan suci akan menumbuhkan keharmonisan sistem dalam pola tindakan dan aktivitas kehidupan dan penghidupan manusia di bumi Allah dengan atas kehendak Nya.

Di lain sisi, perlu diketahui bahwa dalam kehidupan dan penghidupan manusia saat ini masih banyak terjadi ketidak-harmonisan dalam interaksi sosial antar manusia. Ketimpangan sistem tersebut terjadi sebagai akibat ketidak-utuhan pola pemahaman dan tindakan dari para pelaku sosial, yakni manusia itu sendiri – dalam hal ini umat Islam- terhadap aspek sosiologis yang tersurat maupun yang tercipta dengan nilai – nilai kema’rifatannan  suci tersucikan dengan atas kehendak Allah. Dengan demikian, perlu adanya keseimbangan pola interaksi manusia dalam kehidupan dan penghidupan dengan nilai – nilai kema’rifatan yang terkandung dalam Al Qur’an, dengan atas kehendak Allah.