Pengetahuan tentang 99 Asma, Sifat dan Af’al Allah

Bagian1

ٱللهُ لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ لَهُ الْأَسْماءُ الْحُسْنى‏

“Dialah Allah, tiada Tuhan melainkan Dia. Dia mempunya Al- Asma’ul Husna (nama-nama yang baik lagi indah).” (QS. Thahaa: 8)

 

Dimensi asma’, sifat dan Af’al Allah yang terangkumkan dalam 99 Asma’ul Husna Nya, memiliki cakupan yang tak terhinggakan. Curahan asma’, sifat dan af’al Nya terasuk pendarkan dalam segenap dimensi dan ruang penciptaan dan penghidupan Nya pada semesta Nya, dengan atas kehendak Nya. Sedikit penjelasan dalam bagian ini adalah sebuah gambaran umum akan alur perputaran dimensi asma’, sifat dan sf’al Allah yang tercurah pancarkan di dalam diri maupun diluar diri manusia.

1. AR RAHMAN (Yang Maha Pemurah) AR RAHIM (Yang Maha Penyayang)

Ruas dimensi Rahman dan Rahim Allah, terlingkupkan nuansa asma’, sifat dan af’al Nya yang senantiasa terpijar curahkan pada setiap alur penciptaan dan penghidupan Nya kepada seluruh makhluk Allah di semesta Nya ini, dengan atas kehendak Nya. Keberadaan bumi langit seisinya adalah bukti akan curahan kasih sayang Nya kepada seluruh ciptaan Nya, baik curahan Ar Rahman dan Ar Rahim Nya.

Firman Allah dalam Q.S Al A’raaf: 156, artinya:

“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan Rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.”

Sesungguhnya cahaya kasih dan sayang Allah meliputi segala sesuatu, termasuk seluruh umat manusia di bumi Nya sekalipun dia seorang yang ingkar, karena memang demikianlah cara Allah membuat ketetapan Nya bagi setiap makhluk Nya. Dalam setiap kebaikan ataupun keburukan di dunia ini, merupakan wujud kasih sayang Allah sebagai suatu bentuk pembelajaran bagi tiap manusia di bumi Nya, dengan atas kehendak Nya. Sebagai contoh, saat kita terkena musibah dan menyikapinya tanpa kerelaan dan tanpa cara yang Sadar Allah Fokus Allah (SAFA), maka kita akan terjebak pada pusaran ego dan hasrat diri hingga akhirnya akan berakibat pada keterpurukan di dunia bahkan mungkin di akherat kelak. Dibalik sikap lalai kita (ketidak-Sadar Allah Fokus Allah) tersebut, kita pun telah lalai bahwasanya Allah sebagai Rabb Yang Maha Mengatur segala sesuatunya. Bukankah musibah tersebut terjadi dengan atas kehendak Allah dan hanya akan berpulang kembali kepada Nya? Jadi sudah seharusnya diri ini senantiasa Sadar Allah Fokus Allah dalam menyikapi setiap alur kebaikan maupun keburukan dari Allah ‘Azza Wa Jalla.

Saat kita menyikapi sebuah musibah yang Allah datangkan dengan penuh kerelaan dengan Sadar akan Allah Fokus Allah, maka kita akan terbimbing untuk memahami hikmah dan pembelajaran dari musibah tersebut, yang terisyaratkan dibalik setiap alur peristiwanya baik didalam diri maupun diluar diri kita, dengan atas kehendak Allah pula. Dengan demikian, sesungguhnya kitapun telah senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Itulah bukti kasih sayang Nya yang tercakupkan dalam dimensi Rohman dan Rohim Nya. Apapun yang terjadi didalam diri maupun diluar diri, semua itu adalah bagian dari Af’al atau perbuatan Allah yang bersumber dari diri pribadi Nya, dengan atas kehendak Nya, termasuk diantaranya dimensi aplikatif atau dimendi af’al atas asma’ dan sifat Rohman dan Rohim Allah.

Firman Allah dalam Q.S Al Baqarah: 155-157, artinya:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Sebagaimana terisyaratkan dalam ayat tersebut bahwa sesungguhnya Allah akan memberikan ujian dan pembelajaran baik lahir maupun bathin bagi setiap manusia dibumi Nya. Itulah tanda kasih sayang Nya kepada hamba-hamba Nya, agar terlihat jelas siapa yang bertakwa kepada Nya dengan sebenar-benar ketakwaan Nya dan siapa yang ingkar kepada Nya. Meski kedua keadaan manusia itupun terjadi atas pengaturan Allah dan dengan atas kehendak Nya. Sebab dibalik setiap peristiwa yang terjadi didalam diri maupun diluar diri setiap manusia tersiratkan dimensi petunjuk dari Allah yang agung teragungkan dan suci tersucikan, dengan atas kehendak Nya. Diantara cobaan/ujian yang Allah berikan kepada hamba-hamba Nya, sebagaimana yang diisyaratkan dalam ayat tersebut yakni ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dimensi ujian tersebut meliputi sendi-sendi lahiriah (yang nyata) maupun bathiniah (yang tersembunyi) baik didalam diri maupun diluar diri, dengan atas kehendak Nya. Orang-orang yang senantiasa sadar akan Allah dan fokus hanya kepada Allah, akan dapat melampaui ujian tersebut dengan atas kehendak Allah pula. Mereka itulah yang akan mendapatkan curahan rahmat dan berkah yang sempurna dari Allah, yang terpenuhi oleh pancaran cahaya Allah nan suci tersucikan , dengan atas kehendak Nya.

Getar-getar kasih dan sayang yang terjalin antara manusia dengan sesamanya, dan antara manusia dengan ciptaan Allah lainnya, bermula dari sorot Ar Rohman dan Ar Rohim Nya yang terus mengalir dalam pribadi tiap ciptaan Nya, dengan atas kehendak Allah. Namun kini banyak manusia yang tidak menyadari akan hal tersebut sehingga mereka terlena pada getar kasih sayang yang dilandasi oleh ego hasrat diri, dan bukan kasih sayang yang terlandasi oleh prinsip sadar akan Allah dan fokus kepada Allah.