Pengetahuan tentang Semesta dalam Diri

Pengetahuan tentang Semesta dalam Diri 1

Pengetahuan tentang Semesta dalam Diri 2Dialah Allah Yang Maha Nyata lagi Maha Tersembunyi. Sang Pemilik 99 asma’, sifat dan af’al nan tak terhinggakan. Yang Maha Menguasai langit dan bumi. Yang Maha Mengatur segenap gerak kehidupan dan penghidupan di semestaNya dengan atas kehendakNya. Dialah Rabb Yang Mencurahkan cahaya hidayah nan suci tersucikan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Dialah Rabb Yang Maha Menciptakan jin dan manusia. Dialah Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia. Ke-MahaAgungan-Nya tak terukurkan, tak terjangkaukan, tak tergapaikan dan tak terjabarkan oleh apapun dan siapapun dengan atas kehendakNya. Hanya kekasih sejatiNya, Rasulullah SAW, nabi akhirul zaman, yang Allah kehendaki untuk mengenal dan mencintai pribadiNya dengan sebenar – benar pengenalanNya dan kecintaanNya.

Sesungguhnya pada segenap gerak kehidupan dan penghidupan di alam semesta, terdapat tanda – tanda kekuasaan Allah yang tak terhinggakan dengan atas kehendakNya. Termasuk segala sesuatu dalam diri manusia baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Manusia terciptakan dalam keadaan yang sempurna dan tersempurnakan dengan atas kehendak Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. At Tiin ayat 4:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Dan sesungguhnya Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna.”

Demikian Allah tegaskan dalam firmanNya tersebut bahwa sesungguhnya manusia terciptakan dalam bentuk yang sempurna. Baik pada sisi lahiriah maupun sisi bathiniahnya dengan atas kehendak Allah. Namun, Allah tegaskan pula pada ayat berikutnya yang berbunyi:

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”

Sesunguhnya, tempat yang serendah-rendahnya dalam ayat tersebut tak hanya bermakna dunia atau bumi yang kita pijak ini. Tempat yang serendah-rendahnya dalam ayat tersebut mengandung makna yang luas dan meliputi dua dimensi kehidupan, yakni dimensi duniawi dan ukhrowi. Manusia yang dalam kehidupannya hanya menuruti ego dan hasrat diri, maka pastilah ia akan terjerembab dalam kehinaan dan kenistaan yang nyata di dunia bahkan kelak di akhirat dengan atas kehendak Allah.

Sengaja Allah ciptakan ego dan hasrat diri (atau dikenal juga dengan istilah hawa nafsu) sebagai bentuk ujian bagi manusia dalam menjalani dinamika kehidupan dan penghidupannya di bumi Allah dengan atas kehendakNya. Hanya jiwa yang senantiasa kembali dan terkembalikan kepada Allah-lah yang akan mendapat keselamatan dan kebahagiaan di dunia ini bahkan kelak di akhirat dengan atas kehendak Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al Fajr ayat 27-30:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّة

ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

وَادْخُلِي جَنَّتِي

Yang artinya: ” Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku

Jiwa yang tenang yakni jiwa manusia yang senantiasa kembali kepada Allah dan tunduk patuh kepada Allah di segenap aspek kehidupan dan penghidupan lahir maupun bathinnya dengan atas kehendak Allah. Manifestasi ketundukpatuhan jiwa pada Allah tercerminkan dalam kondisi lahir maupun bathin yang senantiasa Sadar Allah Fokus Allah. Jiwa yang senantiasa Sadar Allah Fokus Allah akan menjadikan ego dan hasrat dirinya sebagai pijakan untuk sampai kepada Allah dan mengenalNya dengan sebenar-benar pengenalanNya melalui pintu Rasulullah SAW dengan atas kehendak Allah. Ego dan hasrat diri harus benar – benar tertundukpatuhkan dalam dimensi kesadaran akan Allah dan kefokusan kepada Allah yang mengalir dalam hati, pikir dan tubuh kita dengan atas kehendak Allah. Seseorang yang telah full Sadar Allah Fokus Allah akan senantiasa berada dalam jagaan cahaya suci Allah baik ketika hidup di dunia bahkan kelak di akhirat dengan atas kehendak Allah.

Kebahagiaan sejati yakni tatkala diri ini telah terbebas dari belenggu ego dan hasrat diri dengan atas kehendak Allah. Terbebasnya diri dari belenggu ego dan hasrat diri hanya akan terwujud ketika jiwa kita telah benar-benar menjadikan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai tujuan hidup hakiki dengan atas kehendakNya. Dialah Rabb semesta alam yang Maha Berkehendak atas segala yang ada di langit dan di bumi, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.