Perbedaan Ulama Zhahir dan Ulama Bathin

Perbedaan Ulama Zhahir dan Ulama Bathin 1
66 / 100

Ulama dalam Islam terbagi menjadi dua, yakni ulama zhahir dan Ulama batin. Syariat adalah pengetahuan tentang hukum-hukum serta pemikiran ataupun pertimbangan tentang halal haram dan apa yang berkesesuaian serta apa yang bertentangan dengannya. Itulah yang dapat memelihara amal perbuatan dengan pengetahuannya dan dapat pula memurnikan serta memberi petunjuk atas kaifiat (bagaimana)nya. Adapun asas pokok ilmu ini serta pengamalan dengannya ialah keniatan atau suatu maksud yang dapat membantu tujuan bagi siapa yang berhasrat untuk beramal tentang apakah sekiranya yang dimaksudkan dengan amal perbuatannya itu? Dan siapakah gerangan yang di maksudkan dengan amalannya itu? Apakah sekiranya yang dimaksudkan dengan amalannya itu demi riya . (berbuat sesuatu untuk dilihat dan dipuji orang)? Atau untuk kemunafikan (pura-pura dalarn agama)? Ataukah demi keihlasan dan keyakinan?

Apakah gerangan yang dimaksudkan dengan amalnya itu kepada dua arah? Atau ia berhasrat untuk dua tujuan?

Apakah yang membangkitkan dirinya untuk beramal itu demi ketakwaan atau hanya demi pendekatan? Ataukah sesuatu yang lain?

Dari sinilah terwujud kebutuhan kepada seorang ulama yang telah mendalami syariat. Ke mudian menambah lagi dengan menyelami kepada batin syariat, de mi untuk mengenal berbagai maksud yang bersifat ruhaniah tentang letak-letaknya, kaifiat-kaifiatnya (bagaimananya), hikmat kebijaksanaannya, perintah serta larangannya dan dengan apa yang dapat disahkan dengan perintah serta segala amal perbuatan yang dapat merusakkannya (amal itu). Seorang ulama hendaklah mempelajari (juga) ilmu jiwa dan kecenderungannya untuk mensucikan jiwa dari “Nalsu Ammarah” (jiwa yang selalu menyuruh kepada kejahatan) berpindah kepada “Nafsu Lawwamah” (jiwa yang selalu mencela diri), berpindah lagi kepada “Nafsul Mulhamah” (jiwa yang mendapat ilham) sampai kepada” NalsuI Muthmainnah ” (jiwa yang tenang). Kemudian, setelah kesemuanya itu, menjadilah ia “Nafsur Radhiah Wal Mardhiah ” (jiwa yang rela lagi diridhai oleh Allah SWT).

Perbedaan Ulama Zhahir dan Ulama Bathin 3

Semuanya ini sangat menghajatkan selain dari pengetahuan tentang hukum-hukum ilmu syariat dari nash yang ditetapkan kepada seorang guru yang dapat memberi pelajaran mengenai batin hukum-hukum tersebut. Fungsinya, ialah untuk dapat mentashihkan-(membenarkan) segala maksud yang berkaitan dengannya dan dapat mentakwilkan nash tersebut yang bersifat syariat atas seindah-indahnya wajah yang dapat diharapkan dengannya. Sedang bagian (maksud-maksud) syariat yang batin diletakkan di bagian yang paling atas dan utama.

Allah SWT. berfriman : ”Dan orang-orang yang mendalam ilmunya. ” (Ali Imran 7) .

Dan firman-Nya : ”Kami beriman kepadanya (Al Qur’an), semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” (Ali Imran 7)

Dan firman-Nya : ”Namun tiadalah yang menerima peringatan ( pelajaran ) kecuali orang-orang yang mau menggunakan akal. ” (Al Baqarah 269).
Dan firman-Nya yang lain : ”Yang mendengarkan perkataan lalu mereka mengikuti yang sebaik-baiknya. ” ‘ (Az Zumar 18)

Perbedaan Ulama Zhahir dan Ulama Bathin 4

Dari sinilah akan tampak nyata bagi pembaca sebab-musabab bahwasanya adalah bagi syariat itu lahir dan batin. Mereka telah melepaskan atas lahirnya ialah ilmu-ilmu syariat dan atas batinnya ialah ilmu-ilmu hakikat. _ ,

Adalah sebab yang demikian itu ialah: Bahwasanya Al Qur’an memuat tentang ilmu-ilmu batin dan lahir, sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam sunnah. Namun, diantara ayat-ayat tersebut, terdapat sesuatu yang bisa diambil pengertian atas lahirnya saja dan menghajatkan kepada pemahan yang tepan serta benar, demi untuk mentakwilkannya pada sisi yang benar.

Seperti firman Allah SWT : ”Adakah keraguan tentang Allah pencipta langit dan bumi” . (Ibrahim 10)

Pada firman-Nya yang lain : ”Dan datanglah Tuhanmu serta para malaikat, barisan demi barisan. ” (Al Fajr 2)

Maka atas sudut pandang yang manakah kiranya dapat dimengerti semisal ayat ini’? Apakah dapat diambil (ayat ini) atas dasar pemahaman yang lahir untuknya dan itulah merupakan pemahaman hissi (perasaan). Ataukah atas dasar pemahan maknawi, dimana itulah yang dimaksudkan oleh Allah dan yang seharusnya ditakwilkan serta di tasrifkan (mengubahkan kata-kata) tentang lahirnya kepada sisi yang layak dengan maksud yang sebenarnya.

Ilmu pengetahuan, terhadap lahirnya syariat serta hukum-hukumnya adalah sesuatu kewajiban yang diharuskan. Namun, ilmu terhadap batin Syariat, atau yang dimaksud dengan penetapan segala tujuan dan berbagai keniatan yang dapat menjadikan sah (benar) nya amal perbuatan akan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal itu merupakan natijah (hasil) yang diharapkan dari amal perbuatan yang lahir.

Perbedaan Ulama Zhahir dan Ulama Bathin 5

Seorang ulama haruslah menyesuaikan amal perbuatan yang dapat menyempurnakan keutuhan himpunan (jamaah) dengan mengamalkan apa yang ia telah ketahui tanpa melepaskan pandangan kepada segala niat dan berbagai maksud yang terkandung dalam syariat

Adapun sang hamba setelah ia menyempurnakan ilmu terhadap amal perbuatan dan berbagai cara-caranya akan mulailah ia mendasari jiwa sang pekerja, dimana hal itu merupakan pangkal keniatan pada amal perbuatannya. Kemudian ia dapat mengkaji kecondongan jiwa yang adakalanya dapat merusak amal perbuatan ataupun memperbaikinya, dengan meninggikan serta merendahkannya. Sedangkan ia mendasari sifat-sifat Allah SWT. Yang di maksudkan adalah amalan tersebut dengan menentukan hubungannya. Pertalian antara hamba dan tuannya (penciptanya) hendaknya mengikuti jejak Rasulullah saw.

Barangsiapa telah mengetahui terhadap berbagai hukum dan undang-undang seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw., kemudian terhadap hukum-hukum jiwa, batas kadar yang patut, hubungan batin yang bersifat maknawi; antara syariat, jiwa dan Allah SWT. Lalu ia pun beriman menurut kesemuanya itu, mengikuti risalah dan meneladani beliau, maka ia tergolong seorang yang penuh dengan kebenaran ataupun seorang yang arif bijaksana (sang Sufi) yang menuju kepada Allah SWT.

Asy Syaikh (guru) pada jalan Allah seperti seorang tabib (dokter) bagi seorang yang menderita sakit. Maka iapun mengetahui hal ihwal nafsu (jiwa) insan yang sifatnya meninggi ataupun merendah. Sebagaimana seorang pemandu (penuntun) jalan yang sukses dan berpengalaman menjelajahi padang sahara. Ia telah mengetahui seluk beluknya yang curam, bahaya yang telah membawa kepada kebinasaan. Kemudian kembali untuk memberi petunjuk kepada orang lain atas jalan-jalan itu dengan maksud mendapat keselamatan. ‘

Barangsiapa yang telah mengetahui dan sekali-kali tidak mau mengamalkan serta menghayati maknanya (pemahamannya pada batin dirinya), maka harus berusaha untuk memperbaiki ilmu dan amalnya. Adakalanya seorang memikul ilmu fiqih tetapi bukan seorang faqih. Sedang apabila menangani perjuangan jiwa, kemudian meningkat martabatnya, maka ia termasuk seorang ahli tasawuf. Dan apabila telah mencapai kesempurnaan, maka diberi nama kepadanya seorang sufi atau seorang yang telah mendapatkan sinar terang-benderang. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik ra.: Barangsiapa yang bertindak menurut syari’at saja dan sekali-kali ia tiada berlaku tasawuf, sesungguhnya ia telah menjadi seorang yang fasik (keluar dari jalan yang benar). Dan barangsiapa yang bertindak hanya menurut tasawuf saja dan sekali-kali tiada ia mengikut ilmu syariat, maka ia telah zindiq (orang kafir yang pura-pura beriman Namun, barangsiapa yang mempelajari ilmu syariat kemudian ia berlakU tasawuf, maka ia telah tetap dan benar dalam pendiriannya.

Allah SWT. berfirman : ”Lalu di antara mereka (hamba-hamba Allah) ada yang menganiaya dirinya sendiri dan di antara mereka ada yang sederhana dan di antara mereka ada ( pula) yang lebih cepat dalam berbuat kebaikan. ” (Fathir 32)

Yang pertama adalah menganiaya dirinya sendiri, sederhana (tidak berlebih-lebihan dan tiada pula berkekurangan) serta bercepat-oepat di dalam berbuat kebaikan.

Perbedaan Ulama Zhahir dan Ulama Bathin 6

Agama Islam yang murni tidak hanya mengandung pendidikan yang bersifat fiqih atau syariat saja. Bahkan ia merupakan suatu pendidikan yang bersifat maknawi, ruhani dan perangai sebelum segala sesuatu. Juga mengandung pendidikan yang bersifat syariat dan kemasyarakatan serta perikemanusiaan secara umum, karena Islam merupakan agama yang berorientasi untuk dunia dan akhirat.

Perkataan yang dapat memutuskan antara hak dengan batil dalam persoalan ini ialah, bahwasanya segala ilmu yang lahir merupakan “Lughat” (bahasa atau sarana) bagi ilmu-ilmu hakikat, sekalipun hal itu merupakan pokok (asas) terhadap ilmu-ilmu tersebut dengan menganggap sebagai pintu gerbang dan jalan untuk masuk. Terlebih lagi sesungguhnya ilmu batin membenarkan ilmu lahir serta meluruskannya dan menjadi benih pohon yang diharapkan demi untuk Allah dan Rasul-Nya. Tersembunyinya benih (biji) buah berada dalam pohon, seperti lahirnya syariat dalam batinnya dan rahasia di balik yang lahir. Adapun tersembunyinya didih (buih) itu dalam susunya, maka tanpa mengeluarkan pati (kepala) susu takkan dapat nyata didih buihnya. Menjadikannya makrifat sebagai lahir dan batin adalah buah hasil yang diharapkan bagi syariat yang umum, yang baginya terkandung hal-hal batin dan lahir.

Perbedaan Ulama Zhahir dan Ulama Bathin 7

Sesungguhnya Allah SWT. telah menghimpun antara syariat dan hakikat dalam banyak ayat. Di antaranya adalah firman Allah SWT. : “Bagi siapa di antara kalian yang hendak berlaku lurus. ” (At Takwir 28).
Dan syariat sebagaimana firman Allah yang lain :

”Dan tiadalah kamu berkehendak melainkan kalau Allah menghendaki. ” (Al Insan 30).

Sedang yang merupakan hakikat adalah firman Allah SWT :

”Maka siapa yang berkehendak, niscaya ia dapat mengingatnya.” (Al Muddatsir 55).
Dan firman Allah yang lain :
”Mereka tiada dapat mengingat melainkan jika Allah. menghendaki.” (Al Muddatsir 56).

Benih bibit yang merupakan suatu hakikat tersembunyi seperti seorang ibu yang dapat memelihara, memberi makan, mengasuh, menghasilkan keturunan dan itulah merupakan syariat.

Allah SWT. menganugerahi hikmat kebijaksanaan kepada siapa yang Dia kehendaki. Bahkan di antara hikmat kebijaksanaan itu adalah Dia SWT. berfirman kepada setiap kaum dari para hamba-Nya dengan hal ihwal mereka yang meliputi kesemuanya dengan ruh kemurnian pada batin-batin mereka. Menegakkan serta meluruskan dengan budi pekerti dan perangai yang luhur pada zhahir-zhahir mereka. Inilah kesempurnaan rahmat dan kasih sayang “Rububiyah ” (ke-Tuhanan) yang disebabkan

oleh kelemahan “Ububiyyah” (kehambaan). Allah SWT. berfirman :
”Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Katuliskan rahmat-Ku untuk mereka yang bertakwa, menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al A’raf 156).

Semua itu merupakan usaha untuk mengembalikan tasawuf kepada ajaran (agama) Islam setelah apa yang mengenainya sedikit maupun banyak (tentang wujudnya) yang bercampur-baur dengan ilmu ini (tasawuf). Dengan kata lain, secara keseluruhan memiliki hubungan yang menyeluruh pada semua orang baik dan para salihin dari umat manusia juga para ahli jiwa yang mulia, khususnya bagi umat yang hati sanubari mereka cenderung kepada berbagai sifat keluhuran.

Apakah tasawuf telah memelihara atas keadaannya pada semua agama-agama? Atau apakah para sufi yang beragama Islam telah memelihara atas ruh Al Qur’an dan seruan Islam yang sebesar-besarnya pada tasawuf mereka? Inilah yang akan kami bicarakan kemudian.