Perintah Bertasbih dalam Alqur’an dan Keterkaitannya dengan Dimensi Sadar Allah Fokus Allah

Kesabaran

KesabaranFirman Allah dalam Q.S Thaahaa 130 yang artinya:

“Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu malam hari dan siang hari supaya kamu merasa bahagia.”

Telah jelas diungkapkan dalam ayat tersebut bahwasanya Allah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa bersabar dengan memanjatkan puji syukur kepadaNya. Perintah kesabaran ini sesungguhnya merupakan bagian dari dimensi kehendak Allah yang tercerminkan dalam cahaya As Shabur Nya (Yang Maha Sabar). Dialah Allah Yang Maha Sabar lagi Maha Mencurahkan Kesabaran. Tiadalah kita mampu bersabar dan memuji Allah kecuali dengan atas kehendakNya. Melalui sorot Ash ShaburNya, Dia curahkan cahaya kesabaran pada hati dan pikir kita sehingga mulut kita pun mampu mengucap kalimat tahmid sebagai wujud rasa sabar akan setiap alur keadaan dan peristiwa yang Dia perjalankan pada diri ini.

Sungguh, hanya Allah lah Sang Pemilik langit dan bumi, malam maupun siang. Perintah kesabaran dan tasbih sebagaimana terangkumkan dalam ayat diatas merupakan implementasi yang nyata atas ketidakberdayaan diri ini untuk menghindar dari setiap alur kehendakNya. Bahwa segala sesuatu yang mengalir di dalam diri maupun diluar diri, yang nyata dan yang tersembunyi, semua adalah bagian dari sorot cahaya Allah yang teralurproseskan sedemikian rupa secara ilmiah, alamiah dan Ilahiyah dengan atas kehendakNya.

Sesungguhnya perintah untuk bersabar dengan cara berdzikir memuji Allah di siang dan malam sebagaimana terungkap dalam ayat diatas, telah cukup jelas menggambarkan pentingnya dimensi sadar Allah dan fokus Allah dalam segenap aktifitas lahir maupun bathin kita. Perintah bertasbih dalam ayat diatas merupakan perintah universal yang meliputi segenap aktifitas lahir maupun bathin kita di setiap waktu dan keadaan. Perintah tersebut tergambarkan dengan jelas dalam kalimat “bertasbih pulalah pada waktu malam hari dan siang hari”. Bertasbih dalam hal ini, merupakan wujud rasa syukur dan pujian kita kepada Allah yang terungkapkan secara terus menerus dalam hati, pikir dan tubuh kita dengan atas kehendakNya.

Dimensi bertasbih kepada Allah yang terjalankan secara terus menerus, di setiap waktu dan keadaan, akan tertumbuhkan menjadi sebuah kesadaran penuh yang mengalir pada hati, pikir dan tubuh kita. Bahwa sesungguhnua tiadalah diri ini mampu berbuat sesuat – meski hanya sebesar biji dzarrah – kecuali dengan atas sorot cahaya Allah yang suci tersucikan dengan atas kehendakNya. Dimensi kesadaran akan Allah itulah yang akan membuat diri ini senantiasa ternaungkan dalam kebahagiaan sejati baik di dunia hingga kelak diakhirat dengan atas kehendak Allah.