Universalitas Konsep Sosiologi Kema’rifatan

Universalitas Konsep Sosiologi Kema’rifatan 1

Universalitas Konsep Sosiologi Kema’rifatan 3Dewasa ini, perlu diketahui bahwa ada hal yang mengisyaratkan sebagai tantangan terbesar bagi umat Islam, yakni belum adanya suatu konsep pemahaman universal terhadap dimensi Islam nan murni yang dapat teraplikasikan secara utuh dan menyeluruh dalam pola kehidupan dan penghidupan manusia. Baik secara lahir maupun bathin manusia, sesuai orbit keazalian yang telah Allah tetapkan, dengan atas kehendak Nya. Orbit keazalian insan tersebut berputar pada poros penunggalan akan Allah yang penuh akan cahaya kema’rifatan nan suci dan tersucikan dengan atas kehendak Allah.

Cahaya kema’rifatan yang Allah pancarkan di semesta Nya, memiliki alur bentangan dan dimensi pergerakan yang serba tak terhinggakan dengan atas kehendak Allah. Kesemuanya itu tercerminkan dalam luasnya dimensi penciptaan Allah di semesta Nya, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, baik yang mengalir di dalam diri maupun di luar diri setiap manusia, dengan atas kehendak Allah pula. Berbagai isyarat yang nyata maupun ghaib merupakan bagian dari alur ketetapan Allah dalam memperkenalkan Diri Pribadi Nya nan Maha Bercahaya, kepada seluruh makhluk Nya, terutama manusia, dengan atas kehendak Allah.

Sesungguhnya dimensi pengenalan akan Allah memiliki alur cakupan yang sangat luas bahkan sampai tak terhinggakan dengan atas kehendak Allah. Bentang keluasan ini terangkumkan dalam konsep Sadar Allah Fokus Allah (SAFA), yang terjabarkan secara ilmiah, alamiah dan Ilahiyah dengan atas kehendak Nya pula. Mengapa demikian? Sesungguhnya konsep SAFA telah terisyaratkan oleh Rasulullah SAW dalam hadist beliau yang menerangkan tentang makna dimensi Ihsan, dimana arti dari Hadist tersebut ialah :

“Beribadahlah kepada Allah seolah olah engkau melihat Nya, dan jikalau belum termampukan oleh Nya maka yakinilah Allah melihatmu“

Dimensi sadar akan Allah terisyaratkan dalam kalimat “ jikalau belum termampukan oleh Nya maka yakinilah Allah melihatmu “. Sedangkan dimensi fokus hanya kepada Allah terisyaratkan dalam kalimat “ beribadahlah kepada Allah seolah olah engkau melihat Nya “. Ruas dimensi sadar akan Allah dan fokus kepada Allah merupakan konsep yang terpadukan secara utuh dalam orbit pengenalan akan Allah dengan sebenar – benar pengenalan Nya.

Selain hadist tersebut, keluasan dimensi ma’rifat juga terisyaratkan pula dalam Q.S Al Hajj ayat 78, yang artinya : “ Dan berjihadlah kamu kepada Allah, dengan jihad yang sebenar – benar jihad Nya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali – kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama, suatu kesempitan (ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian dari orang – orang terdahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu maka Dialah sebaik – baik Pelindung dan Penolong”